• Go Study
    Over 300 universities
  • Go Study
    Over 300 universities
Home » » Menjembatani Konflik ORTU dan Anak Dalam Menentukan Jurusan

Menjembatani Konflik ORTU dan Anak Dalam Menentukan Jurusan

Menjembatani Konflik ORTU dan Anak Dalam Menentukan Jurusan


Dear Parents,

Ketika Anda mengharapkan anak Anda mengambil jurusan bisnis, sedangkan anak anda bersikeras untuk masuk ke jurusan culinary, kira-kira bagaimana sikap Anda ? Marah kah Anda ? Atau akankah Anda berusaha keras untuk “membujuk” anak Anda untuk mengambil jurusan yang Anda “sarankan” kepada nya ? Atau….akankah Anda berkata OK, tidak masalah….papa dan mama pasti support.

Menjembatani Konflik ORTU dan Anak Dalam Menentukan JurusanSeorang Dokter spesialis Radiolog di Jawa Timur tidak habis mengerti, mengapa anaknya yang selalu menempati ranking 1 di sekolah dengan nilai eksak (Mat-Kim-Fis) di atas 9 akhirnya mengambil keputusan untuk memilih jurusan perhotelan. Dokter ini bertemu dengan Universal dan Beliau berkata,”sejak dari SMP saya sudah mempersiapkan anak saya untuk menjadi seorang dokter seperti saya, saya ajak dia ke Rumah Sakit, saya memperkenalkan dia dengan dunia medis. Bahkan ketika makan malam bersama, saya selalu sharing tentang menariknya menjadi seorang dokter, bisa menolong orang banyak supaya mengalami kesembuhan dari sakit-nya. Semula anak saya tertarik, dan saya semakin yakin ketika saya melihat prestasi belajarnya. Anak saya tidak pernah kecanduan game, tapi ada 1 hal yang sangat “mengganggu” saya, yaitu ketika dia berkata : rasanya kok menyenangkan ya bekerja di hotel, bisa bertemu banyak orang, melayani orang banyak dan bisa punya banyak relasi. Tidak lama setelah dia berkata seperti itu, anak saya mulai suka melihat acara TV kabel “Discovery Travel”, dia suka browsing berita-berita yang berkaitan tentang dunia wisata dan hospitality (perhotelan). Setiap kali kami berkunjung ke Hotel Bintang 5 (entah untuk menjemput tamu atau menikmati “buffet”), dia tidak pernah merasa canggung untuk mendekati General Manager Hotel (yang kebanyakan adalah orang asing) untuk bertanya tentang seluk beluk dunia perhotelan. Dan kegemaran dia itu dilakukannya bertahun-tahun sampai akhirnya dia lulus SMA dan dia berkata : Papa, saya ingin ke Swiss untuk belajar perhotelan. Seketika saya shock berat, impian dan harapan saya melalui anak ini tiba-tiba sirna begitu saja. Saya merenung, dan akhirnya saya paham bahwa ketika masih muda, saya pun memilih masuk ke Fakultas Kedokteran karena saya cinta dengan dunia medis. Karena masuk ke Fakultas Kedokteran, orangtua saya tidak menolak, bahkan mereka sangat supportif dan bangga karena tahu anaknya akan menjadi seorang dokter”. Saat ini, sang anak di dalam cerita ini adalah seorang Manager muda yang bekerja di sebuah hotel bintang 5 di Swiss, dan mendapatkan “surat rekomendasi” yang ditulis di atas secarik kertas dengan tulisan tangan oleh Mantan Presiden Swiss, yang mengagumi akan semangat dan profesionalisme anak ini dalam melayani para tamu VVIP di Swiss.

Parents, sekelumit cerita diatas adalah satu diantara sekian ribu kasus yang terjadi di dalam kehidupan keluarga kita. Ketika anak kita ingin menjadi Dokter, Pengusaha, Arsitek atau orang jaman dulu berkata menjadi Insinyur, maka kebanyakan orang tua akan berkata YA, BAGUS NAK CITA-CITAMU, PAPA DAN MAMA PASTI SUPPORT. Ketika sang anak berkata, saya tertarik pada musik, design, culinary, animasi, fine art, maka orang tua bisa mempunyai beberapa sikap yang berbeda. Ada yang mendukung, ada yang berkata tidak masalah, kembangkan itu sebagai hobi-mu, ada pula yang berkata kamu harus masuk jurusan ini atau jurusan itu. Salahkah orang tua bersikap demikian ? Penulis adalah orang tua dari 2 orang puteri, dan Penulis mengerti sekali bagaimana rasanya menjadi orang tua yang selalu menaruh harapan yang besar pada masa depan anak.

Anak bisa saja berpikir : Papa atau mama enggak mau mengerti saya, padahal sudah seringkali saya berkata kalau saya mau masuk ke jurusan ini. Sedangkan orang tua berkata : Mau jadi apa kamu setelah lulus dari jurusan itu ?

Pertanyaan-nya adalah bagaimana menjembatani perbedaan ini ? Teman baik Penulis, Mr. Alan Yip, penulis dari FUNtastic Parenting Book (best seller book di Singapore) berkata : Intinya adalah “Healthy Relationship & Healthy Communication Between Parents and Their Children”.


Parents, bagaimanakah cara Anda berkomunikasi dengan anak Anda ? Bagaimana “relationship” Anda dengan anak Anda ? Pernahkah Anda berbicara dari hati ke hati dengan Anak Anda ? Apakah anda benar-benar fokus ketika “mendengarkan” anak Anda berbicara, entah itu menceritakan tentang hobby-nya atau cerita tentang teman-teman mereka di sekolah, apakah Anda merasa pembicaraan itu penting ?”

Menjembatani Konflik ORTU dan Anak Dalam Menentukan Jurusan
Ketika “Healthy Communication dan Healthy Relationship” ada di tengah keluarga, maka “konflik pendapat” bisa tereliminasi, dan “acara konflik” ini pun berubah menjadi “acara brain-storming” bersama, atau acara “Curhat” antara Parents dengan anak. Melalui Healthy Communication, anak bisa memahami EKSPEKTASI orangtua, anak bisa memahami PENGORBANAN orangtua, anak bisa memahami tentang INVESTASI yang sudah diberikan oleh orangtua untuk pendidikan dan masa depan anak. Sebaliknya, Parents juga bisa memahami PASSION anak, belajar melihat trend karir di masa yang akan datang, melakukan “career research” bersama anak dan bersama mencari jalan keluar yang menghasilkan keputusan yang berakhir dengan “HAPPY ENDING”.


Parents, you deserve to see the best things happened in your life and in your children' life. Let’s build a healthy communication, BE THE ROLE MODEL FOR YOUR CHILDREN, and LOVE THEM WITHOUT CONDITIONS.

SHARE

About Universal Overseas Study